Lestari Ambar

Lahir di kota kecil Ambarawa. Melanjutkan pendidikan di D3 Bahasa Inggris IKIP Semarang dan sekarang menekuni profesinya sebagai seorang guru Bahasa Inggris di ...

Selengkapnya
Kondangan Modal Spion Satu Jilid 2

Kondangan Modal Spion Satu Jilid 2

Na yang mau didatangi ini adalah teman yang tak pernah sekelas denganku. Maklum aku pendek dia tinggi. Jelas ga nyambung.

Bukan bukan. Aku kelas A1 dia kelas A3. Beda di jumlah A sepertinya. Namun beda itu tak menyurutkan pertemanan kami. Bahkan aku sering makan di rumahnya lo. Bener. Untuk pertama kalinya aku tahu rasanya beras eh nasi jatah. Loh kok enak. Kata orang-orang beras jatah ga enak kan tapi yang ini pulen coy. Mungki karena jatahnya petinggi. Ups.

Namun 5 tahun berikutnya aku menjadi PNS, berasku tak seempuk beras jatah di rumah temanku tadi. Keras. Ditemani lauk terlezat sekalipun tak mampu menyulap rasa jatah menjadi pulen. Karena aku PNS golongan dua barangkali. Hihihihi.

Temanku ini juga suka berbagi denganku. Termasuk saat berangkat untuk UMPTN ketika

itu. Dengan jip warna hijau dijemputnya aku. Wuih banggalah aku. Seumur-umur aku baru bisa merasakan nikmatnya naik mobil pribadi.

Menuju fakultas pendidikan olahraga kesehatan IKIP Semarang. Jurusan yang diambil temanku tadi. Hari pertama luar biasa. Kusuk dalam belajar. Hari kedua, jangan tanya. Bukannya belajar malah bercanda. Untung kami berdua lolos dan diterima di jurusan pilihan kami. Pasti bukan karena pintar. Karena bejo. Beruntung. Hahahaha.

Namun saat pulang kami harus berpisah karena tempat tes kami berbeda. Aku di Patimura dia di Menoreh. Ternyata dia lebih pagi berangkatnya. Aku tertinggal. Kulihat ada kamus telanjang tanpa cover. Kalau dia sudah pamitan artinya kamus ini tak bertuan. Dasar rezeki. Aku yang ambil jurusan bahasa Inggris malah ga punya kamus. Oke deh angkut.

Karena tak pernah bertemu ya sudahlah kamus itu aku simpan. Malah membantuku saat dapat orderan terjemahan. Lumayan modal nemu dapat duit. Eni temanku itu diam-diam kau banyak jasanya padaku. Padahal dulu kau juga pernah menghadiahiku rok dan kaosmu untukku. Hidup kere pede.

Setelah menimbang berat dan ringannya akhirnya aku putuskan untuk berangkat kondangan. Gabus, sebuah spot di peta google tertulis berjarak 117 km yang dapat ditempuh dalam waktu 3 jam-an. Sang sopir sedikit lega.

Sebelumnya bapak sopir yang tercinta sudah berkeluh kesah karena minggu lalu juga sudah ke luar kota. Minggu ini harus berulang. Pak sopir akhirnya menyerah. Sepakat bertolak jam 7 pun mundur ke satu jam berikutnya. Maklum nunggu si kecil buka mata. Maknya pun harus siapkan berbagai rupa persediaan termasuk e-toll. Karena setahunya rute tercepat adalah melewati tol.

Namun sejenak ada bisikan. Lewatnya Kedungjati. Dengar pernah, lewat ah baru akan dimulai. Sekali lagi. Bukan tol. E-toll pun harus rela ditelantarkan. Tidak diperhatikan. Sejenak menjadi simpanan. Barangkali akan ada acara bepergian bulan depan.

Jalanan Kedungjati itu peninggalan pemerintah Hindia Belanda. Berkelok mengikuti kontur tanah. Bukan bypass. Di kanan kiri pohon-pohon menjulang tinggi. Menutup matahari yang hendak menerangi. Bukan pohon sembarang pohon karena hanya pohon jati yang mampu beradaptasi. Di liatnya tanah bercampur kapur minus zat hara.

Jalanan ini karya asli anak bangsa. Siang malam mereka bekerja. Tanpa bayaran. Karena mereka pekerja paksa. Bisa kembali ke pangkuan sanak keluarga saja sudah anugerah yang luar biasa. Seringkali berakhir dengan berita si empunya nama sudah tiada.

Rombongan pertama melaju di depan sebagai penunjuk jalan. Rombongan kedua harus mampu mengikuti irama yang pertama. Aku dalam hati agak waswas namun Bismillah aku menguatkan sang sopir.

Kelokan dari Bringin menuju Kedungjati aman dalam belaian. Dari Gubug menuju Purwodadi di sinilah drama dimulai. Setelah macet karena olengnya tronton bermuatan pupuk urea yang menutup badan jalan kendaraan pun bisa melaju dengan riang.

Mobil depan mulai beraksi. Zigzag. Kayak aksi polisi mengejar penjahat di layar bioskop televisi. Ada kesempatan, trabas melaju hingga terdepan. Rombongan kami pun mencoba mengikuti. Mobil pertama berhasil melampaui kendaraan di depannya. Kami pun tidak kalah beraninya dengan mobil pertama.

Aku dari dalam mobil memandang ke depan. Tiba-tiba sekelebat pengendara roda dua tanpa helm tampak oleng melaju dari arah berlawanan. Mungkin kaget dengan lajunya mobil pertama. Imbasnya pun ke kami. Tangannya terlihat mengepal di udara. Dan tiba-tiba. Duk. Bukan duk duk duk suara bedug tanda Maghrib telah tiba.

Duk. Suara yang keras itu memenasarani kami seiring lenyapnya sang pengendara tadi. Begitu cepat melintas di samping mobil kami.

Sejurus kemudian baru kami sadar spion sudah tidak di tempatnya. Ponsel kuambil. Pesan singkat kukirim. Berhenti dulu ya, tulisku.

Kami memelankan laju berkendara. Mencari tempat yang luang untuk memeriksa kondisi kendaraan. Benar. Spion itu patah. Tak mau dia berdiri pongah. Mungkin dia lelah. Untunglah kami pergi beriringan. Mobil pertama segera mencari pertolongan pertama pada kerusakan mobil. Secepat kilat solasi dan lem sudah di tangan. Saling membahu saling menguatkan spion agar tegak di tempatnya.

Sales mobil pun kuhubungi barangkali ada bengkel resmi yang bisa disambangi. Alamak adanya di Kudus. Yang benar saja ni kondangan ke arah yang berlawanan masak harus balik kanan. Percobaan pertama si spion letoy alias ga mau tegak. Begitu pintu ditutup lunglailah sang spion. Kali kedua dengan sekuat tenaga. Alhamdulillah spion masih bisa dipertahankan. Tegak. Kokoh. Meski lampu sudah remuk.

Belum juga tiba di tempat kondangan. Sudah lebih tiga jam perjalanan. Ditambah mendokteri sang penyambung kaki. Makan waktu. La kami kapan makan.

Tiba-tiba satu di antara rombongan berteriak. "Ayo kita makan dulu." Kami saling bertatapan. "Ini lo aku bawa nasi," lanjutnya lagi. Kaget menyelimuti. Fitri si pemilik suara turun membawa plastik besar. Satu per satu isinya dikeluarkan. Masing-masing menerima satu nasi dibungkus daun pisang yang diikat karet. Satu kuterima. Kucium wangi sekali. Ada yang bingung. Ada yang menolak. Namun aku bersyukur karena pak sopir tadi tak mampu memasukkan roti sebagai ritual sarapan pagi. Nasi daun dimakan dengan ayam bacem aduhai nikmatnya. Menguatkan dan meluruhkan kekacauan hati.

Yani, pemimpin rombongan tiba-tiba bercerita. Aku dulu juga pernah. Dua kali malah. Kali pertama ketimpuk spion mobil. Kali kedua dipukul pengendara roda dua. "Mahal itu mungkin sekitar 1 jutaan,"katanya lagi. Ada nyeri di hati namun adem menyelimuti. Setidaknya kami bukan korban yang pertama. Sudah ada yang pernah mengalaminya.

Perjalanan masih separonya. Seperti apa kondangan nun jauh di sana. Namun spionku sudah menemui takdirnya. Remuk demi sebuah asa. Kondangan.

Seperti apa kondangannya?

_ to be continued_ *(ga janji)*

_sudah larut_

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wah kok to be continued lagi... Jadi penasaran nihh... Kaya apa kondangan nya... Ferdi

11 Feb
Balas

Penisirin yiiii sibir y ok

11 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali